THAQOTUL INSAN
(POTENSI MANUSIA)
1. Potensi Manusia
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya; dan manusia menurut KBBI adalah makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain) dapat disimpulkan potensi manusia adalah suatu hal yang memungkinkan seseorang dapat mengembangkan kekuatan, kesanggupan, dan daya.
Sedangkan menurut Myles Munroe potensi adalah kekuatan terpendam yang belum dimanfaatkan, bakat tersembunyi atau keberhasilan yang belum diraih padahal sejatinya kita mempunyai kekuatan untuk mencapai keberhasilan tersebut.
Menurut pandangan islam potensi manusia adalah suatu anugerah yang Allah berikan karena Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat sempurna dengan kemampuan Maka dari itulah Allah membekali manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya. Potensi itu meliputi: potensi jasmani (fisik), ruhani (spiritual), dan akal (mind). Ketiga potensi ini akan memberikan kemampuan kepada manusia untuk menentukan dan memilih jalan hidupnya sendiri. Manusia diberi kebebasan untuk menentukan takdirnya. Semua itu tergantung dari bagaimana mereka memanfaatkan potensi yang melekat dalam dirinya.
1.1. Potensi Pendengaran
Arti pendengaran secara baahasa Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara. Dalam manusia dan binatang bertulang belakang, hal ini dilakukan terutama oleh sistem pendengaran yang terdiri dari telinga, saraf-saraf, dan otak.
Sedangkan pendengaran menurut pandangan perspektif islam adalah mendengarkan ajaran-ajaran agama Allah yang disampaikan kepadanya oleh rasul-rasul Allah. Diberi-Nya manusia hati, akal dan pikiran untuk memikirkan, merenungkan, menimbang dan membedakan mana yang baik bagimu dan mana yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak bermanfaat. Sebenarnya dengan anugerah-Nya itu manusia dapat mencapai semua yang baik bagi dirinya sebagai makhluk Allah.
1.2. Potensi Penglihatan
Penglihatan adalah kemampuan untuk mengenali cahaya dan menafsirkannya, salah satu dari indra. Alat tubuh yang digunakan untuk melihat adalah mata. Potensi penglihatan manusia itu sangat besar mata manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk membedakan berbagai macam objek sehingga lahir penafsiaran dari hal yang mata lihat.Allah memberikan penglihatan sebagai anugerah, Dianugerahi-Nya pula manusia mata yang dengannya ia dapat melihat, memandang dan memperhatikan kejadian alam semesta ini.
1.3. Potensi Hati
Hati menurut sains merupakan sebuah kelenjar yang "terbesar" di dalam tubuh manusia, ini terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Berdasarkan fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat ekskresi.
Sedangkan menurut al-Ghazali dan al-Muhasibi, hati adalah raja yang mengawal semua kegiatan yang berlaku pada roh, nafsu dan akal. Hati juga yang mengarahkan kelima-lima panca indera manusia sama ada untuk melakukan kebaikan atau keburukan (Abu Dardaa et al. 2014).
2. Al-Mas’uliyyah (Tanggung Jawab)
Tanggung jawab adalah kesadaran diri manusia terhadap semua tingkah laku dan perbuatan yang disengaja atau pun tidak di sengaja. Tanggung jawab juga harus berasalah dari dalam hati dan kemauan diri sendiri atas kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan.
2.1. Al-Amanah (Sikap Amanah)
Sikap amanah merupakan sesuatu yang dipercayakan untuk dijaga, dilindungi, dan dilaksanakan. Dalam perspektif islam amanah di tunjukan dengan prilaku Rasulullah SAW pada zaman kaum Quraisy yakni dapat di percaya dan menjalankan semua aspek kehidupan baik dalam berdagagang dan pada hal sosial lain. Mereka yang memilih sikap amanah, di dunia ini akan dianugerahi kehormatan al-khilafah (kepemimpinan).
2.2. Al-Khianat
Bagi manusia yang memilih sikap khianat, maka Allah Ta’ala akan mengazab dan menghinakannya, na’udzubillahi min dzalik. Mereka yang tidak mau menggunakan potensi dirinya untuk beribadah, diumpakan oleh Allah Ta’ala dengan berbagai perumpamaan yang hina:
2.2.1. Kal an’am (bagaikan binatang ternak).
2.2.2. Kal kalbi (bagaikan anjing).
2.2.3. Kal qirdi (seperti monyet dan kal khinzir (seperti babi).
2.2.4. Kal khasabi (seperti kayu).
2.2.5. Kal hijarah (seperti batu).
2.2.6. Kal himar (seperti keledai).
2.2.7. Kal ‘ankabut (seperti laba-laba).
Oleh karena itu, at-thaqah (potensi), as-sam’u (pendengaran), al-basharu (penglihatan), dan al-fuadu (hati) yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kita harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan amanah, sehingga Allah Ta’ala akan memuliakan kita di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar