Sabtu, 23 Januari 2021

NAFSUL INSAN (NAFSU MANUSIA)


Link Vidio Pembahasan

NAFSUL INSAN

(NAFSU MANUSIA) 


        Nafsul Insan mempunyai dua kata yaitu nafsu dan Insan. Nafsu berarti sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia, sedangkan insan berarti manusia atau diri sendiri. Secara bahasa kata nafsu berasal dari bahasa Arab, Nafsun (kata mufrod) jam’anya, anfus atau Nufusun dapat diartikan roh, atau nyawa, dari seseorang, darah niat, orang dan kehendak atau keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat. Sedangan secara istilah nafsu, adalah lathifah sesuatu yang lembut pada diri sesorang yang menimbulkan keinginan seseorang atau dorongan-dorongan hati yang kuat untuk memuaskan kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan rohani maupun jasmani. Misalnya keinginan minum, makan, disanjung dihargai dan sebagainya. Karena itu sering disebut dengan hawa nafsu.


Definisi Jiwa 


   Jiwa atau Jiva berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya "benih kehidupan". Dalam berbagai agama dan filsafat, jiwa adalah bagian yang bukan jasmaniah (immaterial) dari seseorang. Biasanya jiwa dipercaya mencakup pikiran dan kepribadian dan sinonim dengan roh, akal, atau awak diri (Wikipedia). 


   Dari beberapa definisi di atas dapat di simpulkan bahwa Nafs ( jiwa ) dalam pandangan Islam adalah diri manusia itu sendiri, nyawa ( roh ) yang menyebabkan adanya kehidupan, sifat yang mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan, dan perasaan pada diri manusia (kompasiana.com).


   Kata Nafs (النفس )dalam Alqur’an memiliki beberapa arti, yaitu sebagai berikut.


1. Jiwa atau sesuatu yang memiliki eksistensi dan hakikat. Dalam pengertian ini, Nafs terdiri atas tubuh dan ruh.


2. Nyawa yang menyebabkan adanya kehidupan. Apabila nyawa ini hilang, maka kematian akan dialami.


3. Suatu sifat pada manusia yang memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan juga kejahatan.


4. Sifat pada diri manusia yang berupa perasaan dan indra yang ditinggalkannya ketika ia tertidur.


    Kemulyaan seorang hamba itu dapat dilihat dari cara dia mengendalikan nafsunya, tingkatan nafsu manusia terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu:


1. Nafsul Mutmainnah 


     Nafsul Muthmainnah adalah jiwa yang telah mendapat ketenangan; telah sanggup untuk menerima cahaya kebenaran sang Ilahi Juga jiwa yang telah mampu menolak menikmati kemewahan dunia dan tidak bisa dipengaruhi olehhal tersebut. Nafsu ini memuat pemiliknya merasa berpuas diri dalam pengabdiannya kepada Tuhan. Dia juga akan selalu berbuat amal saleh (kebajikan kepada sesama makhluk). 


   Nafsu Mutmainnah dapat diartikan sebagai nafsu yang disinari cahaya, sehingga dapat mengosongkan hati dari sikap tercela dan terhiasi dengan sifat terpuji. Nafsu ini dapat menciptakan ketenangan jiwa bagi seseorang. Orang yang berada di tingkatan ini adalah orang yang sedang menuju ke taman Ilahi. Dapat ditemukan sifat-sifat yang terpuji dalam nafsu mutmainnah seperti dermawan, tawakal, ibadah, syukur, ridho, dan takut kepada Tuhan. 


    



    Dalam agama Islam, hal ini telah disebutkan dalam AlQur'an surat Al-Fajr ayat 27-28 sebagaimana berbunyi: Hai jiwa yang tenang, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi. Nafsu ini dimiliki oleh orang yang beriman pada tingkatan khusus (khawas) atau orang-orang yang telah dekat dengan Tuhan.


1.Jiwa yang ar-ruh (qalbu, azam, dan akal)-nya mampu mengendalikan al-hawa syahwat (Nafsul Muth mainnah), kecenderungan, khayalan, dan keinginan)-nya. Maka, jiwa yang seperti ini kecenderungannya adalah ad-dzikr.


2. jiwa yang ar-ruh (qalbu, azam, dan akal)-nya tarik menarik dengan al-hawa (syahwat, kecenderungan, khayalan, dan keinginan)-nya. Jenis jiwa yang seperti ini kecenderungannya masih terpengaruhi ar-ra’yu (rasio). Sedangkan ar-ra’yu seringkali pijakannya adalah dzhan (sangkaan). Inilah yang membuat jiwa berada dalam keadaan ragu memilih (iman atau kafir, taat atau maksiat, baik atau buruk).


3. jiwa yang ar-ruh (qalbu, azam, dan akal)-nya dikendalikan oleh al-hawa (syahwat, kecenderungan, khayalan, dan keinginan)-nya. Maka, jiwa yang seperti ini kecenderungannya adalah kepada asy-syahwat semata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar