Nama : Ahmad Hardiansyah
NPM : 10120045
Kelas : C3 Manajemen
PENDIDIKAN EMOSI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’QN DAN
AL-HADITS
Sumarno
STIT Muhammadiyah Tempurrejo Ngawi
gusmarno19112@gmail.com
PENDAHULUAN
Perasaan intens kemarahan seseorang dating dan pergi secara cepat, tapi ketika hati sedang buruk dapat merasa tidak enak untuk beberapa saat. Bentukbentuk emosi dapat diungkapkan antara lain kemarahan (anger), kesenangan (joy), kegairahan (excitation), dan lain sebagainya. Tanpa adanya dorongan emosi manusia tak banyak berbuat, manusia sejak lahir telah dibekali dengan kemampuan. Manusia kuat dlam Islam adalah mereka yang mampu mengendalikan amarahnya, didalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa manusia sebagai mahkluk yang meiliki kecenderungan untuk melakukan keburukan yang tidak ada pada mahkluk-makhluk lain. Untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan selain dengan ketangkasan kognitif juga diperlukan ketangkasan yang lain,pertimbangan emosi dan pengendalian, kepedulian social, sentralistik spiritual mempunyaikekuatan lain yang juga sangat menentukan keberhasilan.
Dalam Islam yang selama ini jarang disentuh oleh pakar Islam Al-Qur’an berisi prinsip prinsip agama dan etika maupun aturan hokum untuk kehidupan sehari-hari. Untuk itu, maka diperlukan pendidikan terhadap emosi yang ada dalam diri kita sesuai dengan syariat agama yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah.
PENDIDIKAN EMOSI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN ALHADITS
Diungkapkan oleh musfir bin Said Az-Zahrani bahwa emosi adalah keadaan yang mengarah kepada pengalaman atau perbuatan yang hadir karena suatu kejadian, seperti; takut, marah, cinta dan sebaginya. Emosi memiliki dua fungsi yaitu positif dan negative sehingga pelu untuk mendidik emosi, dalam tinjauan AlQur’an dan Sunnah emosi manusia terdiri dari beberapa sifat melekat pada diri manusia secara direncana maupun seketika. Pendidikan emosi adalah usaha manusia untuk mendidik dan mengarahkan emosi yang ada dan mengarahkan kepada nilai-nilai yang terkandung dalam AlQur’an dan Al-Hadits. Dalam Islam kestabilan jiwa dan ruh menjadi tuntunan utama dalam kehidupan karena ia menjadi titik tolak kepada pembentukan emosi dan tingkah laku yang stabil. Tanpa keimanan orang akan sulit untuk sampai pada pengetahuan yang benar.
Firman Allah swt dalam Al-Qur’an yang artinya : “Yang demikianlah itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir lagi, lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti” Hati yang kotor tidak akan mampu menerima cahaya kebenaran dating dari Allah swt, Mengikuti hawa nafsu dan angan-angan Allah berfirman yang artinya: “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka belaka” Hawa nafsu adalah kekuatan yang ada pada diri manusia. Dengan berlatih mengendalikan emosi diri, maka manusia akan mendapatkan banyak manfaat pada fisik dan phsikisnya. Hal ini menunjukan bahwa pengendalian emosi mengandung unsur penataan.
LANGKAH-LANGKAH PENDIDIKAN EMOSI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADITS
Allah swt berifirman yang artinya: “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Akhlak yang baik mampu menyambungkan tali silaturhmai yang putus. Allah swt berfirman yang artinya : “ sesungguhnya seorang hamba, benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang diridhai oleh Allah, yang dia tidak menganggapnya penting, (maka) Allah mengangkatnya dengan perkataan tersebut beberapa derajat dan sesungguhnya seorang hamba, benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang dibenci Allah, yang dia tidak memikirkannya terlebiih dahulu, yang dengan perkataan tersebut dia terjerumus ke dalam Jahannam” Ajaran Isalam memberikan petunjuk agar manusia tidak melakukan hal-hal yang tercela terutama yang keluar dari lisan, Islam menganjurkan amanah dan menjaga lisan nya. Hadits Nabi Muhammad saw yang artinya : Dari Abu Hurairah Radhyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihiwa sallam bersabda, “Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan salingmembenci, jangan saling membelakangi ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yangsedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya”. Hadits Nabi Muhammad saw :Artinya:“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yangmeningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumahdi tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda.Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya”. Firman Allah SWT:Artinya:“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosongdantidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”.
UPAYA-UPAYA UNTUK MEMBENTUK JIWA QUR’ANI
Pertama,Membiasakan hidup dengan akhlak terpuji.Allah swt memperingatkan manusia agar tidak mencaci satu dengan lainnya, sebagaimana firman-Nya :
Artinya:“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah bagi setiap golongan Kami buat menarik perbuatan mereka kemudian kepada Tuhan juga mereka kembali ketika itu diberitahukan kepada mereka apa yang mereka kerjakan”. Kedua,Membiasakan diri istighfar/bertaubat.Untuk membentuk jiwa yang qur’ani maka harus membiasakan diri istighfar/bertaubat yang banyak untuk memohon ampunan kepada Allah swt. Sebagaimana firman-Nya : Artinya:“Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” Ketiga,Membiasakan diri hidup bersahaja.Hidup bersahaja berarti juga memaknai hidup dengan istiqamah,Nabi saw bersabda : Artinya:“Ketahuilah seandainya seluruh umat berkolaborasi untuk memberikan manfaat kepadamu maka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan ketetapan yang Allah tuliskan untukmu. Seandainya seluruh umat berkolaborasi untuk membahayakanmu, maka mereka tidak akan mampu membahayakanmu sedidkitpun kecuali dengan ketetapan yang telah Allah tuliskan untukmu”. Keempat, Membiasakan diri berekspresi senyum.Menampakkan wajah manis dihadapan seorang muslim akan meyebabkan hatinya merasa senang dan bahagia, dan melakukan perbuatan yang menyebabkan bahagianya hati seorang muslim adalah suatu kebaikan dan keutamaan. Sebagaimana Hadits Nabi saw, Beliau bersabda : Artinya:“Dari Abi Dzarr. Ia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Janganlah engkau pandang rendah apa saja dari kebaikan, walaupun engkau bertemu saudaramu (hanya) dengan muka yang manis, dan daripadanya Ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw : “Apakah engkau masak lauk, banyakanlah kuahnya dan hadiahkanlah kepada tetanggamu” Kelima, Membiasakan Diri Berdzikir. Seorang Muslim yang senantiasa berdzikircakan senantiasa mendapatkan kebaikan demi kebaikan. Apabila seorang Muslim sampaicpada derajat suka berdikir, maka ia tidak akan melakukan erbuatan lain selain dzikir kepada Allah Ta’ala. Sesuatu yang selain Allah adalah sesuatu yang pasti meninggalkannya saat kematian menjemput. Nah, di sinilah urgensi mengapa setiap jiwa sangat membutuhkan amalan dzikir. Sebagaimana Hadits Nabi saw, Beliau bersabda : Artinya:“Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.h, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:“Allah SWT berfirman, Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia mengingat-Ku. Maka jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Akupun mengingatnya di dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku di tengah orang banyak, Akupun mengingatnya di tengah kumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Akupun mendekat kepadanya satu hasta, dan jika ia mendekat kepada-Ku satu satu hasta, Akupun mendekat kepadanya satu depa. Dan ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Akupun datang kepadanya dengan berlari kecil”. Keenam, Membiasakan diri bersyukur. Sebagaimana Hadits Nabi saw, Beliau bersabda : Artinya:“Dari Abi Hurairah. Ia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Lihatlah orang yang (keadaannya) di bawah kamu, dan jangan kamu lihat orang yang di atas kamu, karena yang demikian, lebih patut menyebabkan bahwa kamu tidak menganggap ringan nikmat Allah kepada kamu” Ketujuh, Membiasakan diri bersikap jujur. Sebagaimana Hadits Nabi saw, Beliaucbersabda :Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.h. dari Nabi saw beliau bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan ke surga. Seseorang yang berbuat jujur, ia akan menjadi orang yang selalu jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kejelekan, dan kejelekan itu menunjukkan ke neraka. Dan seseorang yang berdusta, ia akan di catat di sisi Allah sebagai pendusta”.
SIMPULAN
Dalam tinjauan Al-Qur’an dan Al-Hadits emosi manusia terdiri dari beberapa sifat yang tampak seperti; takut, sedih ,marah, benci, cemburu, iri dengki,penyesalan, sombong, malu positif, malu negatif, gembira dan cinta yang dapat melekat pada diri mannusia secara direncana maupun seketika. Dalam perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits urgensi pengendalian emosi secara psikologi dalam diri manusia akan mempunyai makna yang agung dan sikap mental manusia yang Islami dalam mengantarkan manusia kearah kehidupan yang dewasa, kemandirian, harmonis yang seimbang. Al-Qur’an juga mengisyaratkan pergulatan psikologis yang dialami oleh manusia, yakni antara kecenderungan pada kesenangankesenangan jasmani dan kecenderungan pada godaangodaan kehidupan duniawi, karenanya perlu dikendalikan emosinya. Penelitian ini bersifat kualitatif, yakni menekankan tentang nilai (value) yang terkandung dalam alur pendidikan emosi manusia menurut perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Adapun usaha dalam melaksanakan pendidikan emosi adalah dengan cara; Pertama;Menjaga Lisan, Kedua;Menjauhi Ghibah, Ketiga;Menghindari sifat saling membenci, Keempat;Menghindari Sifat Perdebatan, Kelima;Meninggalkan Perbuatan Maksiat. Adapun upaya-upaya untuk membentuk jiwa qur’aniadalah dengan cara; Pertama, Membiasakan hidup dengan akhlak terpuji. Allah swt
memperingatkan manusia agar tidak mencaci satu dengan lainnya. Kedua,Membiasakan diri istighfar/bertaubat.Untuk membentuk jiwa yang qur’ani maka harus membiasakan diri istighfar/bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.Ketiga, Membiasakan diri hidup bersahaja.Hidup bersahaja berarti juga memaknai hidup dengan istiqamah. Keempat, Membiasakan diri berekspresi senyum.Menampakkan wajah manis di hadapan seorang muslim akan meyebabkan hatinya merasa senang dan bahagia, dan melakukan perbuatan yang menyebabkan bahagianya hati seorang muslim adalah suatu. Kelima, Membiasakan Diri Berdzikir. Seorang Muslim yang senantiasa berdzikir akan senantiasa mendapatkan kebaikan demi kebaikan. Keenam, Membiasakan diri bersyukur.Ketujuh, Membiasakan diri bersikap jujur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar